dimana aku berada
Written on May 28, 2006 – 8:46 pm | by lulubna84
Aku duduk termenung memandang alam Jagad raya ciptaan Yang Maha Kuasa. Laut yang lebar seakan tak bertepi, Langit yang luas seakan tak berujung, meraih jingga memberi warna senja. Senja merambat, berganti malam.
Diatas langit bintang gemerlap, cahayanya menghiasi indah bumi ini. Malaikat, seluruh alam menyeru menyebut dan bersujud menyebut namamu, Laila ha illallah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahhuakbar.
Malam berlalu, berganti pagi. Matahari bersinar, memberi terang di bumi. Cahayanya menerangi alam semesta ini.
Tiba-tiba, kabut putih menggantung di langit, cakrawala yang luas. Aku terperangah, kabut putih itu bergerak, bergulung-gulung dahsyat mengitari alam dan bumi yang di permukaannya tampak panas berasap. Kabut putih itu kemudian seketika berubah bentuk. Tampak coklat, lalu hitam, hitam semakin hitam, pekat.Sama seperti gumpalan kabut putih, kabut hitam itu pun bergulung-gulung mengitari permukaan bumi yang sangat panas berasap. Gumpalan kabut hitam berputar semakin cepat dari atas, bawah, kanan dan kiri dan akhirnya… Bumm…. Ledakan dahsyat mengguncang bumi!Bumi retak, rumah-rumah roboh, air laut mengguncang menjadi gelombang yang menerjang, disertai dengan angin kencang dan gunung-gunung yang meletus menumpahkan laharnya. Pohon-pohon tumbang bertebaran, rumah dan gedung-gedung hancur porak poranda.
Manusia, hewan dan makhluk bernyawa berlarian ke segala penjuru, meronta dikejar maut. Terdengar suara maha keras, menggelegar, dentuman, hempasan silih berganti, menerjang berulang-ulang.
Akupun terlempar hingga suatu saat aku tak dapat melihat apa-apa lagi selain kegelapan. Tubuhku terasa remuk, sakit dan tak berdaya, akupun tak sadarkan diri.Ketika sadar, aku melihat seberkas cahaya putih, aku bangkit mencari ayah, ibu, istri dan anak-anakku, keluarga, tetangga, teman sekerja dan sepermainan. Semuanya tak ada. Aku berteriak tapi tak ada yang mendengar, aku memanggil tapi tak ada yang menyahut, tak ada yang peduli.
Dalam kesadaran, aku semakin tidak mengerti. Seketika alam menjadi sunyi, sepi. Diatas langit tampak hitam, kabut hitam pekat bertengger diangkasa, seakan siap jatuh, tumpah ke permukaan bumi. Aku melangkah mencari kehidupan. Dan, di kejauhan terdengar suara tangisan, lolong manusia yang bangkit dari kubur, sama seperti aku. Mereka bangkit dari bongkahan tanah dan bebatuan, namun dibalik kejauhan
lainya, aku menyaksikan manusia dengan bentuk yang sangat seram, dirantai dan dililit oleh ular besar bangkit dan berjalan menuju suatu "padang luas" tempat berkumpulnya kami semua, entah tempat apa itu namanya.
Dilain tempat aku juga melihat orang yang bercahaya dan berpakaian putih bersih, orang-orang itu berjalan dengan gagahnya tidak seperti orang-orang yang dirantai dan dililit oleh ular besar tadi. Seakan-akan ada cahaya yang melindungi diatas kepala Orang-orang berbaju putih itu.Setelah tiba di "Padang yang luas" manusia-manusia itu menunggu, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka tak tahu.Dihadapan manusia itu terdapat sebuah layar lebar, satu persatu mereka dipanggil dan aku menyaksikan suatu tanyangan yang menurutku aneh, karena dalam tayangan itu diperlihatkan semua kejadian dari aku lahir hingga terakhir aku berada di dunia yang aku kenal dengan nama bumi, tapi sekali lagi aku masih tetap bingung tempat apa ini? Semua anggota tubuhku bersaksi atas semua perbuatan yang telah aku lakukan semenjak aku kecil, tak ada yang luput.Setelah selesai, kami berjalan meniti sebuah "jalan" setapak, yang diujung jalan itu terdapat dua buah simpang "kiri dan kanan" orang-orang yang berada di depanku ada yang berbelok kearah kanan dan ada pula kearah kiri, entah apa boleh memilih atau sudah ditentukan aku tak tahu
Dari kejauhan tampak olehku, orang-orang yang berbelok ke arah kiri, masuk ke sebuah "tempat", mereka terbakar oleh Api yang sangat panas sekali, sebagian orang-orang itu ada yang dicambuk dan ditusuk oleh besi panas, ada yang digigit oleh ular besar, ada yang badannya digosok oleh seterika panas dan berbagai macam siksaan yang sangat mengerikan. Semua itu terus berulang-ulang, aku tak tahan melihat manusia-manusia itu berteriak meminta tolong dan memohon ampun atas kesalahannya. Inikah buah dosa dan maksiat manusia?Atau inikah ujian insan beriman yang "dibersihkan" terlebih dahulu, agar tak ada lagi percik dosa, hingga menjadi putih, bersih dan suci.Apakah ini kabar bahwa tak ada yang lebih kuasa selain Dia. Karenanya , tak ada gunanya kesombongan, keserakahan, dan keangkuhan anak manusia. Ini menjadikan pelajaran buatku. Tumpukan dosa, maksiat dan kejahatan manusia suatu saat akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya.Sedangkan orang-orang didepanku yang berbelok kearah kanan tak sebanyak manusia-manusia yang berjalan kearah kiri, aku bisa melihat mereka dengan jelas, di "tempat" itu mereka hidup bahagia, sangat berbeda jauh dengan manusia-manusia tadi. Di "tempat" ini mereka makan dan minum dengan sepuasnya, yang pria dilayani oleh "wanita-wanita" cantik dan anggun sedangkan yang wanita dilayani oleh "pria-pria" yang gagah dan tampan. Tempat apakah itu..? ingin aku masuk dan berada disana
Perlahan-lahan barisan didepanku semakin maju dan mendekat ke ujung jalan itu, aku tak tahu apa aku akan melangkahkan kakiku ke arah "kiri" tempat orang-orang yang berteriak menahan sakit dan memohon pertolongan atau aku bisa melangkahkan kakiku kearah "kanan" berkumpul dengan orang-orang berpakaian putih penuh cahaya.Dalam kesadaran, pikiranku masih diliputi seribu pertanyaan… Dimanakah aku berada…?