Kerinduanku
Written on July 4, 2006 – 8:52 pm | by lulubna84
Malam tadi, dalam tidurku sayup-sayup aku mendengar suara dering telepon. Aku tidak tahu apakah di alam nyata telepon rumahku memang sedang berdering waktu itu. Yang jelas, suara berikutnya yang menyusup gendang telingaku bukanlah suara dari alam nyata. Aku mendengar Tante memanggil-manggil namaku dengan suara dan gaya khasnya.
Kucoba membuka mata. Namun kedua kelopak mataku terasa berat bagaikan dihimpit batu. Tubuhku juga sulit bergerak. Selama beberapa menit aku berjuang membebaskan diri dari himpitan itu. Aku merasa seperti sedang ketindihan.
Saat akhirnya aku berhasil membuka mata, hanya kesunyian yang menyelimuti suasana. Mataku masih terasa berat. Suara panggilan Ayah kembali terngiang-ngiang di telingaku.
Hampir satu tahun sudah Tante pergi. Nyaris tanpa pesan. Saat ia menutup mata untuk selama-lamanya, aku sudah berusaha keras mengikhlaskannya. Beberapa hari sebelumnya, doaku kepada Allah memang tak lagi meminta kesembuhannya. Aku hanya meminta yang terbaik. Dan akhirnya Allah memang memberi yang terbaik. Terbaik? Kuakui itu dengan berat hati. Diiringi kalimat penghiburan diri: Bukankah kita tidak pernah tahu rahasia Allah?
Sesaat setelah pemakamannya, aku diam terpekur, menyendiri dalam kamar. Orang-orang dating silih berganti untuk bertakziyah. Telepon tak henti-henti berdering, dari kerabat dan handai taulan yang ingin mengucapkan rasa belasungkawa. Malam terasa mencekam dan banjir air mata. Aku membayangkan, sedang apa tante di bawah tanah sana? Sudahkah Munkar-Nakir datang mengunjunginya? Bisakah Tante menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka? Aku merasa seperti sedang bermimpi. Aku takkan pernah berjumpa Tante lagi di dunia ini.
Lalu tiba-tiba saja ada sebuah rasa yang menyelusup ke relung hati. Sebuah rasa kehilangan. Pedih dan menyayat-nyayat. Aku baru menyadari, betapa aku sesungguhnya sangat mencintai dan membutuhkan Tante. Sosoknya yang pendiam bukan berarti tak menyisakan rindu di hati. Meski semasa hidupnya, aku tak pernah menganggapnya sebagai sosok yang istimewa. Aku juga tak pernah merasakan kerinduan yang mendalam kepadanya, meski aku harus berpisah dengannya, merantau ke pulau seberang demi menuntut ilmu di bangku kuliah. Namun entah kenapa, begitu ia pergi untuk selamanya, tiba-tiba saja namanya menempati posisi atas di hatiku. Tiba-tiba ia menjelma menjadi sosok yang begitu istimewa dan tak tergantikan. Tiba-tiba untaian doa-doaku hanya dipenuhi namanya. Baru kusadari, tak pernah aku merindukan Tante sebesar rinduku setelah kepergiannya menghadap Illahi. Setelah ia jauh dan tak tergapai, baru aku merasa kehilangan. Merasa sangat membutuhkannya. Merasa baktiku kepadanya belum ada seujung kuku, sementara ia telah memberiku begitu banyak dengan segenap kasih sayang dan perhatiannya yang tulus. Ah, betapa tidak tahu dirinya aku sebagai keponakan tersayang